ISTIDRAJ AKADEMIK: Ketika Pendidikan Terlihat Maju, Namun Sesungguhnya Sedang Runtuh

Nilai Tinggi Menjadi Bumerang bagi Masa Depan Bangsa

Jombang, pcnujombang.or.id – Dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan kita tampak semakin “membaik”. Nilai siswa tinggi, laporan mutu sekolah terlihat indah, dan akreditasi kampus semakin berkelas. Di atas kertas, semuanya tampak memuaskan. Namun jika kita masuk lebih dalam, ada sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan: kualitas belajar merosot, integritas akademik menurun, dan motivasi siswa melemah.

Fenomena ini bukan sekadar masalah administratif atau teknis, melainkan sebuah gejala moral yang sangat berbahaya. Para ulama menyebutnya sebagai istidraj—Allah memberikan kenikmatan, tetapi sejatinya menjadi jalan menuju kehancuran karena mereka lalai akan dosanya.

Inilah yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Sistem yang seharusnya melahirkan kejujuran, disiplin, dan adab ilmiah, kini justru menormalisasi kepalsuan demi terlihat unggul.

Manipulasi Nilai: Keberhasilan Palsu yang Menipu

Di banyak sekolah, guru “dipaksa” memberikan nilai bagus. Di kampus, dosen khawatir mahasiswa tidak lulus tepat waktu atau akreditasi turun. Sehingga para dosen juga terpaksa untuk menaikkan atau meluluskan mahasiswa. Sementara mahasiswa protes, jika nilainya kurang bagus meskipun kemampuannya dibawah rata-rata.  

KKM tinggi diberlakukan agar laporan terlihat impresif, bukan karena siswa benar-benar mencapai kompetensi. Di sekolah, mereka terpaksa memberi nilai bagus, agar siswanya bisa masuk perguruan tinggi negeri. Di kampus, mereka juga terpaksa memberi nilai bagus, agar akreditasinya unggul dan mahasiswanya bisa mendapatkan pekerjaan.

Padahal, nilai rekayasa adalah bentuk penipuan akademik—kepada siswa, orang tua, masyarakat, bahkan kepada ilmu itu sendiri. Lebih buruk lagi, siswa akhirnya terbiasa menerima nilai tinggi tanpa usaha. Mereka tidak merasa perlu belajar karena hasilnya sudah pasti: bagus, lulus, bahkan sempurna.

Baca Juga  Tutup Santri Fest 2024, Rois Syuriah PCNU Jombang Tekankan Pentingnya Kolaborasi

Fenomena ini persis dengan istidraj: kenikmatan yang membuat seseorang semakin lalai dan tidak sadar bahwa dirinya sedang rusak.

Ketika Kejujuran Hilang, Semangat Belajar Mati

Setiap kali siswa mendapatkan nilai tanpa proses, maka setiap kali itu pula lahir generasi yang kehilangan rasa malu akademik. Mereka tidak merasa bersalah ketika mencontek, menunda tugas, bahkan tidak belajar sama sekali—karena mereka tahu hasil akhirnya akan tetap bagus.

Inilah kemerosotan moral yang menjadi awal kehancuran pendidikan.

Ketika nilai penuh manipulasi, maka ini bukan hanya kesalahan administratif. namun, ini adalah maksiat ilmiah yang menghilangkan keberkahan pengetahuan.

Langkah kecil berupa manipulasi nilai hari ini menghasilkan dampak besar dalam jangka panjang: lulusan tidak kompeten, guru kehilangan wibawa, kampus kehilangan marwah, dan generasi kehilangan adab ilmiah. Karena mereka menganggap belajar tidakalh penting, yang penting nilai dan ijazah.

Inilah keruntuhan yang datang pelan-pelan—seperti istidraj itu sendiri.

Jalan Keluar: Kembali Kepada Kejujuran Ilmiah

Solusi utama bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan pemulihan moral pendidikan: kejujuran dalam penilaian, keberanian guru dan dosen dalam menjalankan amanah, evaluasi akreditasi yang berbasis kualitas bukan kertas dan angka, menghidupkan adab dalam belajar, dan membangun budaya malu akademik. Karena Rasa malu adalah penjaga utama integritas ilmu.

Kaidah fiqhiyyah menegaskan : ما بُني على باطل فهو باطل

“Mā buniya ‘alā al-bāṭil fahuwa bāṭil.”
(Segala sesuatu yang dibangun di atas kebatilan, hasilnya pasti batil.)

Jika pendidikan pondasinya adalah kejujuran, maka hasilnya akan melahirkan generasi yang berkualitas dan beradab.

Kita mungkin bangga dengan nilai tinggi, rapor indah, dan sertifikat akreditasi. Namun jika semua itu tidak lahir dari proses yang jujur, itulah istidraj pendidikan: kemajuan semu yang perlahan menggerogoti fondasi bangsa.

Baca Juga  Krisis Pahlawan: Mengaku Berjasa, Tapi Penuh Rekayasa

Kini saatnya berani bertanya: Apakah kita sedang membangun masa depan, atau sedang mempercepat kehancurannya? Pendidikan tidak boleh hanya mengejar angka. Ia harus kembali pada hakikatnya: membentuk manusia yang jujur, beradab, dan kompeten.
Jika tidak, kita hanya akan menghasilkan generasi pintar di atas kertas, tetapi kosong di dunia nyata..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *