Mulai Pudarnya Enam Syarat Menuntut Ilmu dalam Kitab Ta’lim al-Muta‘allim

Jombang, pcnujombang.or.id – Pesantren sejak lama menjadikan Ta’lim al-Muta‘allim karya Syeikh Az-Zarnuji sebagai panduan utama dalam membentuk karakter penuntut ilmu. Kitab ini merumuskan enam syarat penting: dzakā’in (kecerdasan), hirsh (kesungguhan), shabr (kesabaran), bulghah (bekal), irsyād ustādz (bimbingan guru), serta thūluz zamān (proses panjang). Enam syarat ini melahirkan generasi ulama yang alim, berakhlak, dan matang secara spiritual serta intelektual.

Syeikh Az-Zarnuji mengingatkan:

اَلاَ لاَتَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِسِتَّةٍ # سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ

ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ # وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

“Ilmu tidak bisa diraih kecuali dengan enam perkara

aku akan menyebutkan kepadamu rinciannya secara jelas.

Kecerdasan, semangat, kesungguhan, modal (uang)

bimbingan guru, dan masa belajar yang panjang.

Namun pada era digital, enam syarat tersebut perlahan memudar. Gawai, budaya instan, dan kecerdasan buatan membentuk pola belajar yang serba cepat namun dangkal. Fenomena ini bukan hanya terjadi pada siswa sekolah dasar atau santri, tetapi juga semakin nyata di dunia kampus. Kini, enam perkara itu mulai kehilangan pijakan di dalam proses pendidikan modern.

Dzakā’in (Kecerdasan): Tergusur oleh Chat GPT

Kecerdasan tidak hanya soal IQ, tetapi kemampuan mengolah informasi, menganalisis, mengingat, dan menyimpulkan. Dahulu, pelajar menguatkan kecerdasannya melalui membaca, menghafal, berdiskusi, dan berkontemplasi. Kini, pola pikir itu bergeser.

Banyak pelajar dan mahasiswa mengandalkan AI untuk mengerjakan tugas, makalah, presentasi, bahkan skripsi. Mereka bertanya pada mesin sebelum otaknya sempat bekerja. Akibatnya: nalar kritis melemah, kemampuan membaca panjang menurun, daya hafal berkurang, analisis dangkal, dan proses belajar berhenti pada hasil, bukan pemahaman.

Az-Zarnuji menegaskan bahwa kecerdasan tumbuh dari latihan yang konsisten, bukan dari perangkat pintar :“الذَّكَاءُ بِالتَّعَلُّمِ” (Kecerdasan lahir dari belajar).

Hirsh (Kesungguhan): Menyusut oleh Distraksi Digital

Kesungguhan belajar kini menjadi barang langka. Notifikasi, video pendek, game, dan media sosial mencuri fokus pelajar. Banyak mahasiswa merasa cukup “tahu sedikit”, bukan “mendalami sampai tuntas”.

Di kampus, fenomenanya sangat terlihat: mahasiswa membaca slide bukan membaca buku, diskusi kelas berubah menjadi formalitas, tugas “yang penting terkumpul”, dan budaya membaca referensi ilmiah mulai pudar. Maka ketika kesungguhan hilang, kualitas intelektual pun rapuh

Baca Juga  Refleksi Hari Sumpah Pemuda: Meneguhkan Jihad Ilmu, Membangun Generasi NU untuk Dunia

Shabr (Kesabaran): Tumbang oleh Budaya Serba Cepat

Kesabaran adalah ruh dari perjalanan ilmiah. Namun budaya “serba cepat” membuat generasi sekarang ingin semuanya instan: jawaban instan, ringkasan instan, konten instan.

Tradisi muraja’ah, membaca ulang, dan latihan berkali-kali semakin hilang. Banyak mahasiswa frustasi ketika harus membaca jurnal ilmiah berbahasa Inggris. Mereka lebih memilih ringkasan AI daripada memahami struktur ilmiah secara mandiri.

Imam Syafii dalam Syairnya :

مَنْ لَمْ يَذُقْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً #  تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتـِهِ

Barangsiapa belum merasakan susahnya menuntut ilmu barang sejenak

Ia pasti akan merasakan rendahnya kebodohan seumur hidupnya

Ketika generasi tidak sabar belajar, mereka akan mudah tergoda melakukan plagiarisme, manipulasi data, menyontek, dan mencari jalan pintas akademik.

Bulghah (Bekal): Disalahpahami dan disalahgunakan

Bulghah bukan sekadar biaya, tetapi meliputi kesiapan mental, waktu, lingkungan, dan potensi akal. Kini banyak siswa ingin semua serba gratis, mengandalkan bantuan meski berasal dari keluarga mampu. Padahal mencari beasiswa harus sesuai haknya; mengambil yang bukan hak termasuk kedzaliman. Mindset seperti ini keliru, sangat dholim jika kita kuliah ingin gratis dan hanya mengandalkan beasiswa, namun selesai kuliah, ketika kita berkerja minta gaji yang besar.

Bulghah juga bisa dimaknai akal atau potensi dalam diri. semua ini adalah anugerah Allah Swt yang harus kita manfaatkan. Jangan sampai beralasan “saya tidak bakat” “saya tidak minat” sehingga kita tidak mau belajar Fikih, nahwu, Akhlaq dan keilmuan islam lainnya.

Padahal, menurut penulis bakat minat itu ya potensi dari Allah Swt berupa akal. karena apapun pelajarannya, asalkan kita mau menggunakan akal dengan baik maka kita pasti bisa memahami dan menguasainya. Problemnya, Teknologi dan Chat GPT sudah menggantikan posisi akal kita.

Irsyād Ustādz (Bimbingan Guru) yang Tergeser Mesin

AI bisa memberi jawaban cepat, tetapi tidak bisa memberikan adab, keberkahan, sanad, dan keteladanan. Kini banyak pelajar lebih percaya jawaban mesin daripada guru yang mengajar dengan pengalaman dan hati. Mereka menganggap guru hanya penyampai materi, bukan pembimbing jiwa dan akhlak.

Baca Juga  Tadarus Seni Budaya Islam: Kolaborasi Ulama, Seniman, Budayawan, dan Akademisi Jombang

Tradisi sowan atau silaturahmi ilmiah semakin hilang. Banyak siswa sekolah bertahun-tahun tanpa pernah mendatangi rumah gurunya. Banyak mahasiswa menamatkan kuliah tanpa pernah berdiskusi langsung dengan dosen di luar kelas. Padahal keberkahan ilmu bersumber dari kedekatan murid-guru.

Thūluz Zamān (Proses Panjang): Tidak Lagi Diminati

Belajar adalah perjalanan panjang. Namun budaya quick answer dan ringkasan instan membuat generasi sekarang enggan menghadapi proses. Para ulama terdahulu belajar bertahun-tahun dari satu guru ke guru lain. Mereka sabar, tertib, dan menghargai proses. Sekarang, siswa ingin naik kelas meski belum layak, nilai dimanipulasi demi “kelulusan”, bukan kualitas.

Di kampus, masalahnya semakin tampak yakni mahasiswa tidak menerima ketika tidak lulus mata kuliah, nilai dimanipulasi demi akreditasi, mahasiswa yang belum layak tetap “dipaksa” lulus, skripsi menjadi formalitas, bukan proses intelektual. Padahal, Proses panjang yang sebenarnya membentuk kedalaman ilmu justru dielakkan.

Enam syarat belajar dalam Ta’lim al-Muta‘allim bukan sekadar warisan klasik, tetapi pedoman penting untuk menjaga martabat ilmu di era digital. Dunia kampus, madrasah, sekolah, dan pesantren harus kembali memperkuat nilai-nilai itu agar pelajar tidak hanya pintar secara teknologi, tetapi juga kuat secara intelektual, matang secara adab, dan kokoh secara moral.

Selamat Hari Guru….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *