Jombang – Kekerasan dan tindak perundungan kini menjadi masalah serius yang perlu diatasi. Dibuktikan dengan banyaknya kasus dan berita kekerasan yang berseliweran terutama yang berhubungan dengan kekerasan di lingkup pelajar.
Menanggapi hal ini, Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Jombang melakukan upaya survey untuk menemukan data terkait kekerasan pelajar di Jombang.
Herlina Dwi A, ketua PC IPPNU Jombang mengungkapkan, upaya riset kekerasan pelajar tersebut dilakukan dalam rangka menanggapi isu-isu kekerasan dan bullying atau perundungan yang sering terjadi di kalangan pelajar.
“Riset kekerasan pelajar ini diinisiasi karena maraknya isu-isu di Kabupaten Jombang mengenai perundungan, terutama di kalangan pelajar sekolah,” ujar Herlina, dalam sambutannya di acara launching hasil riset kekerasan pelajar, di Aula BMT NU Jombang, Ahad (10/11/2024).
Survey yang dilakukan dalam periode 20 Mei – 20 September 2024 tersebut melibatkan 366 responden yang terdiri dari 61,3 persen responden perempuan dan 38,7 persen responden laki-laki, dengan perincian 8,8 persen pelajar SMP, 63,3 persen pelajar SMA, dan 26,5 persen mahasiswa.
Hasil survey menyebutkan, 40,6 persen responden mengaku pernah mengalami kekerasan, dan kekerasan yang paling dominan adalah perundungan, dengan persentase sebesar 46 persen.
Mirisnya, perempuan lebih rentan menjadi korban kekerasan. Dari data survey tersebut sebanyak 60 persen korban kekerasan adalah perempuan.
Apalagi ditambah dengan pengetahuan korban kekerasan terhadap akses pengaduan sangat minim. Sebanyak 65 persen responden belum mengetahui akses-akses pengaduan tindak kekerasan.
Hal tersebut disinyalir disebabkan adanya kesenjangan informasi dan kurangnya upaya sosialisasi layanan pengaduan kepada masyarakat luas.
Adapun pelaku kekerasan, berdasarkan survei, dilakukan oleh teman sebaya dengan 34 persen kasus, sedangkan pelaku dari keluarga dan kerabat sebesar 45 persen kasus.
Penyebab kekerasan pada pelajar terjadi bisa disebabkan oleh gangguan emosional, kesalahpahaman, faktor lingkungan, hingga adanya dendam antara pelaku dan korban.
Ini menunjukkan kompleksitas masalah kekerasan di lingkungan pelajar tidak hanya dipengaruhi dari latar belakang individu, tetapi juga faktor sosial dan lingkungan tempat tinggal.
“Maka dari itu IPNU-IPPNU yang merupakan representasi dari pelajar NU ini mempunyai tanggung jawab dan diharapkan dapat menjadi solusi atas adanya kasus-kasus yang terjadi di Jombang,” pungkas Herlina.
Jombang, 11 November 2024
Diterbitkan Oleh : Media Center – LTN PCNU Jombang
Penulis : Miftahul Jannah
Editor : –














