Jombang, pcnujombang.or.id – Forum Kiai se-Kabupaten Jombang menggelar pertemuan silaturahmi sekaligus konsolidasi sikap terkait kebijakan pendidikan daerah.
Pertemuan yang dihadiri oleh jajaran Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang dan para Syuriyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Jombang ini berlangsung pada Ahad Kliwon, 9 November 2025, bertempat di Pondok Pesantren Al-Bisri Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang.
Dalam pertemuan tersebut, para kiai secara tegas menyatakan dukungan penuh terhadap penerapan kembali sistem enam hari sekolah di Jombang, khususnya untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Keputusan ini merupakan tindak lanjut dari musyawarah para Kiai MWCNU se-Jombang yang sebelumnya membahas peninjauan ulang kebijakan Bupati Jombang tentang sistem lima hari sekolah, yang digelar di Pondok Pesantren Falahul Mubin Watu Galuh, Diwek, pada 25 Agustus 2025.
Dr. KH. Sholahuddin Fathurrahman, Katib Syuriyah PCNU Jombang, dalam sambutannya menyampaikan bahwa keputusan forum ini menegaskan aspirasi para kiai untuk mengembalikan ritme pendidikan yang selaras dengan kultur dan tradisi pesantren di Jombang.
“Pertemuan hari ini menegaskan kembali hasil musyawarah sebelumnya. Para kiai berpandangan bahwa sistem enam hari sekolah lebih sesuai dengan kebutuhan anak didik, baik dari sisi pembentukan karakter maupun keseimbangan antara pendidikan formal dan nonformal,” ujarnya.
Sementara itu, KH. Ainul Yaqin, Ketua Forum Silaturahmi Rais Syuriyah MWCNU se-Jombang, menyampaikan bahwa forum para kiai memberikan amanah penuh kepada PCNU Jombang untuk memperjuangkan aspirasi ini kepada pemerintah daerah.
“Para kiai se-Jombang sepakat memberikan dukungan tertulis agar kebijakan enam hari sekolah bisa segera diberlakukan kembali. Ini bukan hanya soal teknis jadwal belajar, tetapi soal masa depan generasi penerus bangsa,” tegasnya.
Forum ini menilai bahwa sistem enam hari sekolah akan memberikan ruang yang lebih luas bagi pembinaan moral, spiritual, dan sosial peserta didik.
Selain itu, sistem ini juga dinilai mampu menjaga kesinambungan tradisi keilmuan keagamaan yang telah menjadi ciri khas pendidikan di Jombang.
Pertemuan diakhiri dengan pembacaan doa bersama dan penandatanganan dukungan tertulis dari para kiai se-Jombang, sebagai bentuk kesepahaman dan komitmen bersama dalam memperjuangkan pendidikan yang seimbang antara ilmu dan akhlak.














