Tiga Wajah Orang NU: Formalistik, Semi Formalistik, dan Non Formalistik

Tahukah Anda? Cara Berjuang di NU Bisa Sangat Berbeda!

Jombang, pcnujombang.or.id – Di Nahdlatul Ulama, tidak semua orang berjuang dengan cara yang sama. Ada yang fokus di rapat dan struktur organisasi, ada yang luwes memadukan tradisi dengan aktivitas sosial, dan ada pula yang bergerak di akar rumput tanpa pernah menjadi pengurus.
Tiga watak ini—formalistik, semi formalistik, dan non formalistik—menjadi wajah berbeda dari satu semangat besar: menjaga NU tetap hidup di hati masyarakat.

Kaum Formalistik: Pengurus yang Sibuk di Struktur

Orang NU tipe ini aktif di struktur resmi—dari ranting hingga PBNU. Mereka rajin rapat, membuat program, dan menjaga aturan organisasi. Loyalitas mereka terlihat dari disiplin terhadap mekanisme dan regulasi NU.

“Mereka adalah tulang punggung organisasi, menjaga agar NU tetap berjalan sesuai arah dan aturan.”

Tantangan mereka: kadang terlalu fokus pada formalitas sehingga jarang menapak langsung di masyarakat. Meski begitu, keberadaan mereka penting untuk menjaga NU tetap terorganisir.

Kaum Semi Formalistik: Jembatan Tradisi dan Struktur

Tipe semi formalistik adalah penghubung antara dunia formal dan akar budaya NU. Mereka aktif di kepengurusan, tapi tetap hadir di tengah masyarakat.

“Mereka hadir di rapat NU sekaligus mengisi pengajian di kampung—menjadi jembatan antara organisasi dan masyarakat.”

Mereka mampu membawa aspirasi masyarakat ke meja rapat, sekaligus membawa program organisasi ke akar rumput. Keberadaan mereka membuat NU tetap relevan di dua dunia sekaligus.

Kaum Non Formalistik: Pejuang Akar Rumput Tanpa Nama

Yang sering luput dari perhatian adalah kaum non formalistik. Mereka bukan pengurus, tapi tetap berjuang di masyarakat dengan nilai-nilai NU.

“Mereka adalah darah yang mengalirkan kehidupan NU di akar rumput.”

Mereka bisa berupa guru ngaji, ibu-ibu di majelis dzikir, petani yang istiqamah membaca yasin, atau dai kampung yang sederhana mengajarkan Aswaja. Tanpa mereka, NU tidak akan hidup di hati masyarakat.

Baca Juga  Makna Filosofi "Ketupat" dan "lepet" dalam Tradisi dan Keislaman

NU Sebagai Rumah Besar Semua Watak

Ketiga karakter ini saling melengkapi. Formalistik menjaga sistem dan arah; semi formalistik menjadi penghubung dan penerjemah nilai; non formalistik menjadi jiwa yang menghidupkan perjuangan NU di masyarakat.

Jika NU diibaratkan tubuh manusia: formalistik adalah tulangnya, semi formalistik adalah ototnya, dan non formalistik adalah darah yang mengalirkan kehidupan. Tanpa salah satu, tubuh NU tidak akan utuh.

Menyatukan Langkah untuk NU yang Kuat

Tantangan NU hari ini adalah bagaimana menyatukan ketiga watak ini. Jangan sampai formalistik merasa paling sah, semi formalistik merasa paling fleksibel, dan non formalistik merasa paling ikhlas.

Semua adalah bagian dari satu rumah besar: Nahdlatul Ulama, tempat di mana cinta kepada ulama, bangsa, dan kemanusiaan bersemayam dalam satu napas perjuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *